
Penelusuran ini memang telah kami lakukan hampir 10 tahun yang lalu, dan telah tertuang pada tesis saya yang berjudul “Kawruh Kalang Arsitektur Ponorogo”. Namun pengenalan tentang "joglo ponorogo" perlu kiranya dapat dipandang sebagai penomena arsitektur "nusantara".
Arsitektur Joglo diatas adalah merupakan peninggalan rumah Ki Ageng Besari yang terletak di Jetis-Ponorogo. Dimana dalam perkembangannya pernah digunakan untuk “mondok” Ronggo Warsito. Menjulangnya sektor “gajah” adalah merupakan perbedaan yang menyolok dibandingkan dengan joglo di luar Ponorogo.


Keberadaan Rumah Joglo di Ponorogo tidak saja dimiliki oleh orang terpandang saja, seperti halnya Ki Ageng Besari, namun juga dimiliki oleh orang kebanyakan. Seperti halnya dengan rumah Joglo di atas berada di daerah Maron-Kauman-Ponorogo. Menjulangnya sektor “gajah” seakan-akan akan menggapai awan, menampakan kemegahannya. Sedangkan sektor pananggapnya mengembang ke bawah sehingga menimbulkan ruang yang “ayom” melingkupi. Hubungan antara sektor “brunjung” dan “pananggap” menggambarkan jiwa pemiliknya yang mempunyai ikatan dengan yang mahakuasa dan manusia.


Ruang yang terbentuk oleh megahnya bentuk joglo juga terasa di dalam ruang yang dibentuknya, dua kolom yang menjulang tinggi menyangga “midhangan” sebagai atap gajah. Midangan dibentuk sedemikian rupa dengan menghadirkan tumpangsari yang jumlahnya melambangkan kekayaan duniawi. Demikian juga dengan hadirnya ukiran di dada peksi yang menggunakan warna dasar alami menambah megahnya sektor ini.


Penggunaan atap Joglo tidak hanya untuk bangunan besar, namun juga untuk bangunan yang lebih kecil. Perbedaannya adalah berkurangnya sektor “penanggap”, sehingga luasan yang dibentuknya lebih kecil. Namun tingginya sektor “gajah” tetap menjulang, Inilah Joglo Ponorogo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar